Pemimpin Garut Versi Masyarakat Garut Yang Cerdas

Senita Apriliani Zaelani

www.radiorugeri.com Sebuah kalimat yang tak asing didengar oleh telinga kita, sebuah kata penuh makna tetapi bukan sebuah selogan biasa, tetapi sebuah kalimat yang memiliki makna sejarah bagi bangsa Indonesia yaitu NKRI Harga Mati. Kadang ada orang yang mengartikan bahwa kalimat ini merupakan hanya sebuah kalimat hiasan dalam catatan sejarah Indonesia, ada pula yang memaknai bahwa kalimat ini ialah hanya selogan biasa untuk terlihat memiliki jiwa nasionalis dan bahkan ada yang tidak pernah tahu apa makna kalimat tersebut.

Selogan ini merupakan salah satu dari 4 pilar bangsa, yaitu NKRI. Cinta terhadap Negaranya bukan ia yang menggembor-gemborkan suara atas nama keadilan di depan gedung DPR/DPRD, bukan ia yang bertubuh kekar penuh tatto berkeliaran di sela-sela meja para pejabat, bukan ia yang memiliki massa yang begitu banyak, bukan ia yang memiliki banyak uang untuk membeli kekuasaan dan bukan pula ia yang paling jago adu jotos fisik.

Sebagai generasi muda bangsa, sudah sepantasnya mencerminkan “kemudaan” pemuda-pemudi dengan kecerdasan yang dilandasi integritas dan kecerdikan yang terdidik. Dalam waktu dekat ini kita akan dihadapkan pada situasi yang membuat keadaan genting bak diserang tentara penjajah yaitu tak lain memperebutkan sebuah kekuasaan sebagai pemimpin Garut 1, sebagai warga masyarakat yang bijak itu bukan menjadi sebuah persoalan di ranah kegentingannya tersebut.

Tetapi yang menjadi note bagi masyarakat Garut yang bijaksana, sudah sepantasnya kita melihat capacity and electability bukan popularity yang menginginkan Garut menjadi masyarakat madani. Sebagai masyarakat awam besar kemungkinan ia akan mendukung pemimpinnya dengan melihat ke-populeran dan ketampanan/kecantikan dari calon pemimpinnya atau bahkan dengan iming-iming kinerja atau pula janji-janji politis seperti “ketika saya terpilih”, “saya akan”, “nanti saya ingin”.

Sudah terlalu lama dahulu sejak zaman pra-kemerdekaan kita di jajah dan di bodohi oleh kaum berkulit putih itu, dan ini saatnya kita sebagai generasi muda untuk “melek” terhadap memilih dan menjadikan calon pemimpin yang selama ini ditunggu-tunggu visi-misinya. Sebagai warga masyarakat Garut kita adalah sebagai penentu suara untuk mereka yang mencalonkan dirinya sebagai pemimpin di kabupaten Garut, jangan disia-siakan kepada ia yang memberikan sejumlah uang yang tidak seberapa dengan mempertaruhkan nasib kota Garut selama beberapa tahun ke depan.

Meskipun tidak semua orang dapat dijadikan transaksional dalam bukunya karya Suwidi Tono, setidaknya ada beberapa agenda besar untuk dikerjakan sebagai pijakan kokoh ke depan agar bangsa maju dan terus bertumbuh. Pertama, pendidikan yang mencerdaskan mandiri dan bermartabat. Pendidikan dasar harus di design ulang untuk membudidayakan esensi kawasan kognitif-psikomotorik-afektif sebagai basis pembentukan pola pikir anak-anak bangsa. Dengan hasrat mengeksploitasi talenta untuk membentuk karakter kuat terlalu mahal ditukar dengan aneka silabus hampa nilai.

Kedua, pencegahan korupsi sebagai gerakan tak henti-hentinya. Korupsi merajalela akibat mewabahnya watak munafik dan menyelinap sejak perencanaan faktanya lembaga pengawasan melekat (inspektorat sejenisnya) dan sanksi hukum tidak efektif karena rentang kendali sangat elastis, memberi keleluasaan bagi praktik kejahatan kemanusiaan tersebut. Ketiga, revitalisasi program Keluarga Berencana (KB) struktur demografi ke depan dibayang-bayangi ledakan jumlah penduduk usia produktif berkualitas rendah akibat minimnya asupan gizi dan pendidikan bermutu.

Keempat, pembangunan infrastruktur dengan pola arisan daerah. Akibat APBN terbebani bermacam subsidi dan pembayaran utang, kapasitas pemerintah semakin terbatas dalam membiayai pembangunan infastruktur. Salah satu alternatifnya dengan pola arisan antar wilayah, termasuk menggandeng swasta. Model ini menjanjikan terutama untuk menjembatani kesenjangan pembangunan infrastruktur antar wilayah, keterbatasan sumber daya lokal, dan sinergi pembentukan “titik-titik api” pertumbuhan ekonomi.

Kelima, merawat dan memperkuat kebinekaan. Eksistensi keberagaman dan memperkuat kemampuan mengelola “perbedaan persatuan” yang terus merosot menunjukan negara dan masyarakat menjaga kemajemukan sebagai omnipresent, suatu kenyataan tak terbantahkan. Kita butuh banyak figur dengan karakteristik enabler bukan provider, leader bukan dealer, pemimpin bukan pembesar.

Negarawan otentik dengan visi melenting ke depan, bukan kontestan yang menjual keajaiban. Konfigurasi tantangan dan beban negara menghendaki ekspresi keteguhan sikap, keputusan, dan tindakan yang menyatukan visi bersama. Kita sudah sepantasnya tidak memilih seorang pemimpin yang mudah berjanji, tetapi tidak memiliki talenta yang lihai ditengah terjun pengabdian untuk masyarakat.

Kota Garut ini perlu banyak tokoh teladan yang dapat membangkitkan tekad yang dapat menemukan “tapak jalan” kebuntuan, yang bersendikan visi-misi kuat dengan ukuran yang nyata serta pola yang terstuktur dan terencana. Kita membutuhkan pemimpin yang dapat meningkatkan kapasitas daerah, infastruktur terjamin dan comfort, dan pemimpin yang paham bahagimana cara mengelola kompetensinya.

Mengekspresikan kencintaan terhadap Negeri dan Daerahnya tentu saja banyak cara yang positif dengan ikut membangun dan menjadikan kabupaten Garut ini menjadi bermartabat. Salah satunya adalah kita sebagai warga masyarakat Garut tidak asal memilih calon pemimpin yang hanya membesarkan nama Garut saja tetapi yang mampu meng-influence warganya untuk menjaga integritas atas nama kabupaten Garut bukan atas nama dirinya sendiri. Pemimpin yang tegas, cerdas dan cekatan sangatlah diharapkan untuk menjadi sang influencer untuk masyarakat Garut.

Penulis : Senita Apriliani Zaelani (Mahasiswi STH Garut)

Untuk kabar langsung bisa simak siaran kami di 93,4 RUGERI FM atau streaming di www.radiorugeri.com