Penuh Inspirasi Hilman Putra Asgar Bangun Komunitas Hinga Juara Nasional

Piagam Penghargaan dan Sertifikat Kejuaraan Ngariung Angklung

RADIO RUGERI – Persoalan kompleks yang melanda negeri ini bukan saja disebabkan oleh permasalahan politik, ekonomi, sosial dll. Namun hal yang paling mendasar adalah hilangnya jati diri bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat dari paradigma masyarakat terhadap tradisi dan budaya sekitar, yang mulai acuh dan nilai budaya daerah tergeserkan oleh budaya modern.

Hal tersebut diungkapkan Hilman Pirmansyah seorang Guru Madrasah di bandung yang merupakan Putra Asli Garut Jawa Barat, menurut Hilman budaya yang membuat bangsa memiliki kepribadian dan dengan budayalah manusia menjadi besar.

Hilman Pirmansyah Pendiri Ngariung Angklung

“Dengan budayalah kita besar dan dengan budaya pula bangsa kita memiliki kepribadian dan karakter yang khas. Budaya daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang sangat berharga. Sehingga keberadaannya sangat memerlukan perhatian yang khusus dari masyarakat atau pemerintah daerah setempat untuk tetap menjaga dan melestarikannya”.

Lanjut hilman kaum pelajar sebagai elemen pemuda digolongan masyarakat, harus mampu melihat realita ini dan mengangkat nilai-nilai budaya daerah tesebut menjadi suatu kekayaan budaya bangsa. Hilman merasa terpukul hatinya disaat angklung di klaim oleh negara tetangga sebagai alat musik asal mereka.

“Banyak yang marah mengujat negara tetangga. Tapi mereka tidak sadar anak-anak kita pegang angklung aja gak pernah apalagi memainkannya, selain itu ketika tahun 2013 saya nganter anak-anak ke sabuga memperingati hari anak nasional, disitu kami disuguhkan oleh penampilan musik angklung. Menarik nya angklung tersebut dimainkan oleh anak-anak disabilitas, video nya masih saya simpan sampe sekarang”.

Maha karya Hilman di Komunitas Ngariung Angklung

Hilman seorang PNS Muda MTSN 1 Kota Bandung itu merinding saat merekam video tersebut, dalam hatinya hilman bertanya ” Kok bisa dan mampu yah mereka memainkan musik angklung, padahal dengan segala keterbatasan nya”.

Semenjak itu hilman bertekad untuk melangkah dengan kerja nyata, dengan membina siswa siswi untuk belajar seni.

Saat itu tutur hilman dirinya mengadakan acara pagelaran seni kolaborasi yang menampilkan seluruh cabang seni yang mendapat respon baik dari siswa-siswinya. Setelah terhimpun barulah di tahun 2013 hilman mendirikan komunitas angklung dengan keprihatinan karena tidak ada pelatih, tapi hilman tetap berusaha merawat komunitas tersebut.

Aida Ratu (22) menambahkan bahwa di tangan pak hilman komunitas angklung dan kain carnaval mendapat beberapa penghargaan dan prestasi di bidang seni. Seiring perjalanan, Ngariung Angklung tidak hanya menekuni seni musik saja tetapi berkembang menjadi seni helaran, karnaval, festival yang didalamnya terdapat seni musik, seni suara, seni tari dan seni-seni lainnya.

” Saya melihat kegigihan pak hilman yang terus berusaha mengikut sertakan anak-anak di berbagai helaran bahkan telah diikuti baik tingkat kota dalam Milangkala Kota Bandung, dengan menyabet Juara 1 Bandung Light Fest 2015 , tingkat provinsi, Juara 2 Jabar Ngagaya 2016, Tingkat Nasional dalam kemilau Nusantara 2014, Juara 1 Asian African Carnival 2016 dan Top 10 Caruban Carnival 2017, Juara 3 Asian African 2017 dan Runner Up 1 Karnaval Kemerdekaan 2017″.

Aida memuji perjuangan pak hilman selama membangun komunitas dengan sabar, gigih dan pwnuh semangat sehingga mampu membawa komunitas itu menjadi yang terbaik si beberapa event, Pungkasnya.

(Evan/red)