TIPS MEMILIH GURU

RADIO RUGERI ||  Menuntut ilmu agama untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mewariskan amal shalih adalah tanda kebaikan yang Allah azza wa Jalla kehendaki bagi para hamba yang dipilih-Nya, sekaligus merupakan jalan menuju surga-Nya.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya paham (berilmu) tentang (urusan) agama (Islam). “ (HR. Bukhari, No. 2948, dan Muslim No. 1037)

Dalam hadits shahih lainnya dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa menempuh suatu jalan dengan tujuan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. “ (HR. Muslim, No. 2699)

Apa saja yang harus kita jadikan pegangan di dalam memilih guru dalam mengambil ilmu?
1. Lurus aqidah dan manjahnya.
Mengenai pentingnya akkidah dalam mencari guru yang tepat, ada salah satu perkataan penting dari Abdurrahman bin Mahdi yang artinya, “Tiga orang tidak boleh belajar kepadanya; seorang pendusta, ahli bid’ah yang mengajak kepada bid’ah, dan orang yang banyak lupa dan salah. “ (kitab Syarah Ilal al-Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain, ditunjukkan oleh Nabi saw. , “Sesungguhnya di antara tanda hari kiamat, ilmu itu diambil dari al-Ashagir.” (HR. Ibnul Mubarak)

Apa yang dimaksud dengan al-Ashagir? Ibnul al-Mubarak mengatakan bahwa itu adalah ahli bid’ah, sehingga itu menunjukkan bahwa tanda hari kiamat adalah orang yang mengambil ilmu dari orang-orang yang menyimpang dari pemikirannya. Berarti hadits ini menunjukkan tidak bolehnya kita mengambil ilmu dari orang-orang yang menyimpang. Ini adalah pendapat jumhur para ulama.

2. Keahlian
Karena keahlian ini sangat penting sekali. Oleh karenanya Allah swt. berfirman,
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyaah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahlul dzikr) jika kamu tidak mengetahui. “ (QS. an-Nahl: 43).
Apa itu ahludz dzikr? Ahludz dzikr yaitu orang yang ahli terhadap terhadap Alquran dan hadits-hadits Nabi saw.

Imam Nawawi berkata mengatakan bahwa ,
“Tidak boleh menuntut ilmu/mengambil ilmu kecuali dari orang yang sempurna keahliannya, tampak ketaatannya, terbukti pengetahuannya, dan dikenal menjaga diri. “ (Kitab at-Tibyan Adab Hamalatil Quran).

3. Berakhlak mulia
Ini merupakan sebuah keutamaan saja bagi seorang guru yang bisa kita jadikan panutan dalam hidup kita. Dengan guru berakhlak mulia, maka akan semakin tingkat ketakwaan dan akhlak kita.

4. Belajar pada guru yang senior
Imam an-nawai mengatakan, “Dapat dipetik pelajaran bahwa kematangan dan ketajaman ilmu terwujud bersama matangnya usia, banyaknya pengalaman, dan ketajaman akal. “

Namun demikian bukan berarti bahwa belajar dengan guru senior bukan meniadakan orang muda yang berilmu.

 

 

(Puri Megawati / Pemandu Siar Program JELITA “Jendela Inspirasi Wanita” di Radio RUGERI FM Garut)